my life. my way

close your eyes, take a deep breath , open your eyes and look around, there's a miracle inside of you.
Recent Tweets @estyabotii
Who I Follow
Please, don’t bother making me feel special, if you are not meant to .
270892~

Sebelumnya, saya menggunakan logikasebagai bahan pertimbangan untuk menaruh hati pada seseorang. Golongan darah yang sesuai, zodiak yang tidak membingungkan, dia anak sulung yang sesuai untuk anak bungsu seperti saya, entah umurnya yang bagi saya tepat, kesukaan yang sama, atau semua hal yang bisa digunakan ilmu, adat, semuanya untuk bilang bahwa kami cocok. Titik.

Saya tidak bilang bahwa saya tidak pernah sakit hati. Ya, mungkin itu sebabnya sehinggga semakin saya mengandalkan logikaku untuk menaruh hati kepada seseorang. Untuk seorang wanita, kadang saya merasa terlalu banyak menggunakan logika, walau tidak jarang sifat sentimentil saya masih mendominasi.

Saya kenal seseorang, secara logika dia saaaangat tidak cocok dengan saya. 

1. Golongan darah yang menurut orang dan banyak tulisan bilang bahwa golongan darah tersebut susah ditebak. Dan saya tidak suka orang yang perilakunya berubah-ubah.

2. Berbicara setengah2, which is saya tidak suka hal yang ‘nanggung’

3. Secara zodiak, tidak cocok.

4. Secara urutan anak ke berapa, tidak cocok juga.

5. Umur? Jangan ditanya

6. Kesukaan? Sangat berbeda

Entahlah, bagi saya kami terlalu berbeda. Semakin banyak nanti yang saya temukan bahwa kita cocok jika saya teruskan.

Tapi, ini yang sebenarnya ingin saya bilang. Dari ketidaksukaan saya dan ketidakcocokan, justru malah saya merasa bahwa kali ini saya tidak salah menaruh hati. Mungkin akhirnya ini saat saya menggunakan hati lagi, entahlah. Tapi yang saya rasa sekarang, bagi saya tidak penting semua hal yang bisa dicerna oleh nalar. Saya mengabaikan semua ‘ketidakcocokan’ itu dan entahlah lagi lagi saya tidak tahu apa yang saya lakukan ini. Yang jelas, logika saya sedang buntu sekarang hati saya pun bingung juga harus seperti apa. 

Masa lalu ada untuk masa kini. Jangan sesali, gunakan sebagai bekal untuk terus berjalan dan menatap masa depan.
@indonesiasastra (via indonesiasastra)

Sebelum mengenal kamu, saya pikir cinta itu hanya perlu diperjuangkan.
Ternyata tidak.
Cinta juga butuh dipatahkan.

Begitulah kita bertemu, kan?

@TiaSetiawati (via karenapuisiituindah)
Setiap orang baik, tapi tidak setiap orang baik bagimu.
lupa -_
Diam-diam aku merapal do’a untukmu yang tengah berjuang. Percayalah, sesungguhnya yang berbicara semua akan baik-baik saja yang paling takut saat ini.

Beri aku tenang, meski kau dalam keadaan tak sadarkan diri.

Semesta, beri dia keberuntungan ditengah perjuangannya.
Amin

(via andhikahadipratama)

Aku mau memiliki quote ini, boleh?

(via kunamaibintangitunamamu)

(via kunamaibintangitunamamu)

Tidak ada kejadian yang diniatkan menjahati kita.
Mario Teguh

pidi-baiq:

IBU UBU IBU

Kau mengajari aku mengucapkan kata-kata baru.

Kau menghendaki aku mengucapkan kata-kata bagus.

Kau adalah yang tidak membunuhku selagi masih bayi.

Kau adalah yang tidak mengutukku hingga menjadi batu.

Kau sebut nama aku pada tiap ucap doamu.

Kau jauh lebih tinggi daripada aneka macam sorga

Kau tanyakan khabarku di saat aku tinggal jauh

Kau adalah yang lunglai di saat aku marah pergi

Kau adalah yang malu di saat aku berbuat memalukan

Kau adalah yang bimbang tanya dengan siapa aku pergi

Kau jauh lebih harum dari apa pun yang paling mengharumkan

Kau adalah yang bilang “Jangan kecewa. Sabar, sayang

Kau adalah dirimu dengan getar kupanggil engkau: IBU

Saya tidak masalah jika hati saya terluka, bahkan berkali-kali pun saya tidak masalah. Asalkan, jangan sampai logika saya ikut hancur ataupun rusak. Karena jika hati tidak bisa menguatkan saya, maka logika yang membuat saya bertahan.
270892
When I say “I love you,” its not because I want you or because I can’t have you. It has nothing to do with me. I love what you are, what you do, and how you try. I’ve seen your kindness and your strength. I’ve seen the best and the worst of you. And I understand with perfect clarity exactly what and who you are. — Joss Whedon